Sabtu, 17 Oktober 2009
tentang cinta
1.Cinta tak berbalas memang menyakitkan. Namun akan lebih menyakitkan bila Anda mencintai seseorang, namun tidak memiliki keberanian untuk menyatakannya.
2.Anda dipertemukan dengan orang yang tidak tepat sebelum menemukan yang tepat. Agar saat orang itu datang, Anda sadar betapa berharganya anugerah tersebut.
3.Cinta adalah ketika Anda memeluk pasangan dan berkata, "Saya menerima semua kelemahanmu".
4.Melupakan tak selalu berarti memaafkan. Maka, jangan pernah lari dari kenyataan cinta.
5.Benar kalau Anda tak tahu apa yang Anda milik sampai hal itu hilang. Tetapi benar pula bahwa Anda tak tahu apa yang hilang, hingga hal itu ada.
6.Cinta yang murni hanya mengenal satu kata, yakni memberi.
7.Janganlah Anda menjadi tuli ketika seseorang meneriakkan cinta di hati Anda.
8.Jangan ucapkan selamat tinggal bila hati Anda masih ingin mencobanya, jangan menyerah bila Anda merasa masih bisa maju.
9.Cinta datang kepada mereka yang masih mempunyai harapan meski 1001 kali telah dikecewakan, dan bagi mereka yang punya keberanian untuk sekali lagi membangun kepercayaan setelah ada kekecewaan.
10.Permulaan sebuah cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi diri sendiri.
............... jangan genggam cinta itu terlalu erat,biarkan terangnya berpendar indah,biaskan banyak warna-warni, hiasi hari-hari......... kamu yang memilikinya, tetap abadi......
Jumat, 09 Oktober 2009

untuk anda, yang mengaku "mencintainya"...
Apakah saya menikah dengan orang yang tepat?
Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba
melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, "Bagaimana saya tahu kalo
saya menikah dengan orang yang tepat?"
Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya, jadi
saya menjawab "Ya.. tergantung. Apakah pria di sebelah anda itu suami
anda?"
Dengan sangat serius dia balik bertanya "Bagaimana anda tahu?!"
"Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini."
Inilah jawabannya!
SETIAP ikatan memiliki siklus.
Pada saat-saat awal sebuah hubungan, anda merasakan jatuh cinta dengan
pasangan anda.
Telepon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian
sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang
bersemangat, begitu menyenangkan.
Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit.
Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu
spontan. Ngga perlu berbuat apapun.
Makanya dikatakan "jatuh" cinta!
Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan "aku mabuk cinta"
Bayangkan ekspresi tersebut!
Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba
sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada anda.
Jatuh cinta itu mudah.
Sesuatu yang pasif dan spontan.
Tapi?
Setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar,
perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan.
Perlahan tapi pasti.. telepon darinya menjadi hal yang merepotkan,
belaiannya ngga selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang bersemangat
bukannya jadi hal yang manis, tapi malah nambahin penat yang ada…
Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu,
namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga anda,
anda akan mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan,
pada saat anda jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan
pada tahapan-tahapan selanjutnya.
Dan pada situasi inilah pertanyaan "Did I marry the right person?" mulai
muncul, baik dari anda atau dari pasangan anda, atau dari keduanya..
Nah lho!
Dan ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan eforia cinta
yang pernah terjadi.. anda mungkin mulai berhasrat menyelami
eforia-eforia cinta itu dengan orang lain.
Dan ketika pernikahan itu akhirnya kandas?
Masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu
dan mencari pelampiasan diluar.
Berbagai macam cara, bentuk, dan ukuran untuk pelampiasan ini.
Mengingkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas.
Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya,
hobinya, pertemanannya, nonton TV sampe TVnya bosen ditonton, ataupun hal-
hal yang menyolok lainnya.
Tapi tau ngga?!
Bahwa jawaban atas dilema ini ngga ada diluar, justru jawaban ini hanya
ada didalam pernikahan itu sendiri.
Selingkuh?? Ya mungkin itu jawabannya.
Saya nggak mengatakan kalo anda nggak boleh ataupun ngga bisa selingkuh,
Anda bisa!
Bisa saja ataupun boleh saja anda selingkuh, dan pada saat itu anda akan
merasa lebih baik.
Tapi itu bersifat temporer, dan setelah beberapa tahun anda akan
mengalami kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan anda).
Perselingkuhan yang dilakukan sama dengan proses berpacaran yang pernah
anda lakukan dengan pasangan anda, penuh gairah.
Tetapi, seandainya proses itu dilanjutkan, maka anda akan mendapati
keadaan yang sama dengan pernikahan anda sekarang.
Itu adalah siklus...
Karena.. (pahamilah dengan seksama hal ini)
KUNCI SUKSES PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT,
NAMUN KUNCINYA ADALAH BAGAIMANA BELAJAR
MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN DAN TERUS MENERUS..!
Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan
Cinta NGGA AKAN PERNAH begitu saja terjadi!
Kita ngga akan bisa MENEMUKAN cinta yang selamanya
Kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke hari.
Benar juga ungkapan "diperbudak cinta"
Karena cinta itu BUTUH waktu, usaha, dan energi.
Dan yang paling penting, cinta itu butuh sikap BIJAK
Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar rumah tangga
berjalan dengan baik .
Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini.
Cinta bukanlah MISTERI
Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan
ataupun tanpa pasangan anda) agar rumah tangga berjalan lancar.
Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu fisika (seperti gaya Grafitasi),
dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya.
Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat
tubuh kita lebih kuat, beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga
juga DAPAT membuat rumah tangga itu lebih kuat.
Ini merupakan reaksi sebab akibat.
Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita
bisa "MEMBUAT" cinta, bukannya "JATUH".
Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan
sebuah DECISION,
dan bukan cuma PERASAAN..!
jika ia sebuah cinta.....
ia tidak mendengar...
namun senantiasa bergetar....
jika ia sebuah cinta.....
ia tidak buta..
namun senantiasa melihat dan merasa..
jika ia sebuah cinta.....
ia tidak menyiksa..
namun senantiasa menguji..
jika ia sebuah cinta.....
ia tidak memaksa..
namun senantiasa berusaha..
jika ia sebuah cinta.....
ia tidak cantik..
namun senantiasa menarik..
jika ia sebuah cinta.....
ia tidak datang dengan kata-kata..
namun senantiasa menghampiri dengan hati..
jika ia sebuah cinta.....
ia tidak terucap dengan kata..
namun senantiasa hadir dengan sinar mata..
jika ia sebuah cinta......
ia tidak hanya berjanji..
namun senantiasa mencoba memenangi..
jika ia sebuah cinta.....
ia mungkin tidak suci..
namun senantiasa tulus..
jika ia sebuah cinta.....
ia tidak hadir karena permintaan..
namun hadir karena ketentuan...
jika ia sebuah cinta.....
ia tidak hadir dengan kekayaan dan
kebendaan...
namun hadir karena pengorbanan dan
kesetiaan..
CINTAILAH pasangan anda, seperti anda INGIN DICINTAI olehnya…
SETIALAH pada pasangan anda, seperti anda INGIN MENDAPATKAN KESETIAANNYA…
Kamis, 08 Oktober 2009

Segitiga Cinta
Ada banyak alasan orang untuk menikah. Ada yang bilang bahwa
pasangannya enak diajak bicara. Ada yang bilang pasangannya sangat
perhatian. Ada yang bilang merasa aman dekat dengan pasangannya.
Ada yang bilang pasangannya macho atau sexy. Ada yang bilang
pasangannya pandai melucu. Ada yang bilang pasangannya pandai memasak.
Ada yang bilang pasangannya pandai menyenangkan orang tua. Pendek kata
kebanyakan orang bilang dia COCOK dengan pasangannya.
Ada banyak alasan pula untuk bercerai. Ada yang bilang pasangannya
judes, bila diajak bicara cenderung emosional. Ada yang bilang
pasangannya sangat memperhatikan pekerjaannya saja, lupa kepada
orang-orang di rumah yang setia menunggu. Ada yang bilang
pasangannya sangat pendiam, tidak dapat bertindak cepat dalam
situasi darurat, sehingga merasa kurang terlindungi. Ada yang
bilang pasangannya kurang menggairahkan. Ada yang bilang pasangannya gak nyambung kalau bicara. Ada yang bilang masakan pasangannya terlalu
asin atau terlalu manis. Ada yang bilang pasangannya tidak dapat
mengambil hati mertuanya. Pendek kata kebanyakan orang bilang
bahwa dia TIDAK COCOK LAGI dengan pasangannya.
Kebanyakan orang sebetulnya menikah dalam ketidakcocokan. Bukan
dalam kecocokan. Dr. Paul Gunadi menyebut kecocokan-kecocokan
diatas sebagai sebuah ilusi pernikahan. Dua orang yang pada waktu pacaran
merasa cocok tidak akan serta merta berubah menjadi tidak cocok
setelah mereka menikah.
Ada hal-hal yang hilang setelah mereka menikah, yang sebelumnya
mereka pertahankan benar-benar selama pacaran. Sebagai contoh,
pada waktu pacaran dua sejoli akan saling memperhatikan, saling
mendahulukan satu dengan yang lain, saling menghargai, saling
mencintai. Lalu apa yang dapat menjadi pengikat yang mampu terus
mempertahankan sebuah pernikahan, bila kecocokan-kecocokan itu
tidak ada lagi? Jawabannya adalah KOMITMEN.
Seorang kawan saya di Surabaya membuat sebuah penelitian, perilaku
selingkuh kaum adam pada waktu mereka dinas luar kota dan jauh
dari anak / isterinya.
Apa yang membuat pria-pria tersebut selingkuh tidak perlu
dijabarkan lagi.
Tetapi apa yang membuat pria-pria tersebut bertahan untuk tidak
selingkuh?
Jawaban dari penelitian tersebut sama dengan diatas yaitu :
KOMITMEN.
Hanya komitmen yang kuat mampu menahan gelombang godaan dunia
modern pada waktu seorang pria berada jauh dari keluarganya. Begitu pula
sebaliknya, pada kasus wanita yang berselingkuh.
Komitmen adalah sebagian dari cinta dalam definisi seorang
psikolog kenamaan bernama Sternberg. Dia menyebutnya sebagai "triangular
love" atau segitiga cinta dimana ketiga sudutnya berisi :
Intimacy(keintiman),
Passion (gairah) dan
Commitment (komitmen).
Sebuah cinta yang lengkap dalam sebuah rumah tangga selayaknya memiliki
ketiga hal diatas.
Intimacy atau keintiman adalah perasaan dekat, enak, nyaman, ada
ikatan satu dengan yang lainnya.
Passion atau gairah adalah perasaan romantis, ketertarikan secara
fisik dan seksual dan berbagai macam perasaan hangat antar pasangan.
Commitment atau komitmen adalah sebuat keputusan final bahwa
seseorang akan mencintai pasangannya dan akan terus memelihara
cinta tersebut "until death do us apart".--> janji nikah- sakramen
Itulah segitiga cinta karya Sternberg yang cukup masuk akal untuk
dipelihara dalam kehidupan rumah tangga. Bila sebuat relasi
kehilangan salah satu atau lebih dari 3 unsur diatas, maka relasi
itu tidak dapat dikatakan sebagai cinta yang lengkap dalam konteks
hubungan suami dan isteri, melainkan akan menjadi bentuk-bentuk
cinta yang berbeda.
Sebagai contoh :
Bila sebuah relasi hanya berisi intimacy dan commitment saja, maka
relasi seperti ini biasa disebut sebagai persahabatan.
Bila sebuah relasi hanya bersisi passion dan intimacy saja tanpa
commitment, maka ia biasa disebut sebagai kumpul kebo.
Bila sebuah relasi hanya mengandung passion saja tanpa intimacy
dan commitment, maka ia biasa disebut sebagai infatuation
(tergila-gila)
(tulisan ini kudapat dari seorang teman...tq, untuknya)
Rabu, 07 Oktober 2009
Selasa, 06 Oktober 2009
TEST
BEBERAPA CARA MEMPRAKTEKKAN KERENDAHAN HATI
oleh B. Teresa dari Calcutta
- Mengurus urusan sendiri.
- Tidak ingin mencampuri urusan orang lain.
- Menghindari rasa ingin tahu.
- Menerima pertentangan dan kritik dengan senang hati.
- Tidak mengingat-ingat kesalahan orang lain.
- Menerima apabila dihina dan disakiti.
- Menerima apabila diabaikan, dilupakan dan dibenci.
- Tidak berusaha agar dikasihi dan dikagumi secara istimewa.
- Lemah lembut dan ramah bahkan andai orang memancing amarah kita.
- Tidak pernah menuntut agar dihargai.
- mengalah dalam perdebatan bahkan andai kita benar.
- Selalu memilih yang tersulit.
17 BUKTI AKAN KURANGNYA KERENDAHAN HATI
oleh St. Josemaria Escriva
1.Berpikir bahwa apa yang dikatakan atau dilakukan lebih baik dari apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain.
2.Selalu ingin menuruti kemauan sendiri.
3.Berdebat dengan keras kepala dan dengan sikap yang kurang baik tanpa peduli benar atau salah.
4.Menyatakan pendapat ketika tidak diminta.
5.Memandang rendah pendapat orang lain.
6.Tidak menganggap bakat-bakat serta kemampuan diri sebagai pinjaman dari Tuhan.
7.Tidak menyadari bahwa diri sendiri tidak layak atas segala penghargaan dan pujian, bahkan tidak atas bumi tempatnya berpijak dan atas barang-barang yang dimiliki.
8.Membicarakan diri sendiri sebagai contoh dalam percakapan-percakapan.
9.Berbicara buruk tentang diri sendiri sehingga orang lain kagum atau menyanggah dengan pujian.
10.Membela diri apabila ditegur.
11.Menyembunyikan kesalahan-kesalahan yang memalukan dari pembimbing rohani, sehingga kesan baiknya terhadapmu tidak berkurang.
12.Senang menerima pujian dan penghargaan.
13.Sedih karena orang lain lebih dihargai.
14.Menolak melakukan pekerjaan-pekerjaan remeh.
15.Berusaha menonjolkan diri.
16.Mempercakapkan kejujuran, kecerdasan, kecakapan atau gengsi jabatan diri sendiri.
17.Merasa malu atas kekurangan diri sendiri.
